Serakah Membawa Musibah
Oleh : Asep Saepudin Soleh
Setiap manusia
pasti ingin mendapatkan sesuatu khususnya harta dalam jumlah yang banyak
sehingga bisa mencukupi diri dan keluarga serta bisa berbagi kepada orang lain.
Berbagai cara dan usahapun dilakukan demi mendapatkan harta yang banyak.
Namun apa dikata
keinginan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, ada saat dimana kita mendapat
banyak, tapi pada saat lain kita mendapat sedidkit bahkan sangat sedikit dan
tidak dapat mencukupi kebutuhan. Pantas jika ada pepatah mengatakan bahwa harta
ibarat sebuah bayangan, ketika kita kejar ia lari ketika kita diam ia pun diam.
Kecintaan pada
harta dunia senantiasa menghiasi kehidupan manusia, tidak jarang orang yang
ingin mendapatkan harta sampai berani merampas hak milik orang lain, bersifat
kikir dan serakah.
Dalam istilah bahasa arab, ada
dua kata untuk memberi sebutan kepada orang yang haus akan harta, pertama menggunakan
kata bukhlun atau bakhil yang berarti kikir, yang kedua
menggunakan kata Syuhhun yang berarti serakah atau tamak. Orang yang
mempunyai sifat serakah selain kikir dia juga tamak terhadap harta, dia tidak
rela berbagi dengan sesama dan ingin semua harta menjadi miliknya sendiri.
Sifat serakah sangat berbahaya karena selain akan merugikan diri sendiri juga
merugikan orang lain. Kita masih ingat bagaimana Qorun ditenggelamkan ke dalam
tanah bersama harta yang dipuja-pujanya karena kekikirannya dan kufur terhadap
Yang aha Memberi yaitu Allah SWT.
Memang pada
dasarnya pada diri manusia terdapat potensi untuk bersifat kikir. Tetapi ada
orang yang melawan sifat kikir tersebut, dan ada juga orang yang menurutinya.
Dalam sebuah hadits rosul riwayat Ath-Thabrani dan Nashirudin Al-Albani
menyebutkan hadits ini hasan, bahwa ada tiga penyakit hati yang dapat merusak,
yaitu ; syuhhun mutha`un wahawan muttaba`un wai`jabul mari binafsihi
(Kikir atau serakah yang ditaati, hawa nafsu yang diperturukkan, dan kekaguman
sesrorang pada dirinya sendiri). Dalam sebuah hadits Allah memperingatkan
kepada kita, “hati-hatilah kamu dari sifat kikir (serakah), maka sesungguhnya
kikir itu telah membinasakan orang sebelum kamu”.
Sebagai contoh,
di masa Nabi Isa ada seorang lelaki Bani Isroil yang datang kepada Nabi Isa as dan berkata,
Wahai Isa, saya ingin bersahabat dan selalu bersamamu!, Nabi Isa berkata,
“Baiklah, marilah berjalan mengikutiku!!”. Beberapa lamanya berjalan orang itu
Dari kisah Bani
Isroil tadi ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik, bahwa sifat kikir
yang ada pada diri seseorang senantiasa akan melakukan perbuatan, tindakan
merampas hak milik orang lain, dia berani berbohong dan senantiasa tidak merasa
puas terhadap bagiannya yang pada akhirnya kebinasaanlah yang dia dapatkan.
Seandainya dia bersifat qona`ah dan ridla akan bagiannya niscaya dia selamat an
akan menikmati harta bagiannya. Tetapi karena dia menuruti sifat serakahnya
pada akhirnya jangankan menikmati, yang terjadi dirinya kebinasaan menimpa
dirinya.
Oleh karenanya
Allah mengingatkan kita dalam al-Quran, “dan janganlah sebahagian kamu memakan
harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan
(janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat)
dosa, Padahal kamu mengetahui.”(QS. Al-Baqarah : 188). Wallohu a`lam.⟳⟳
artikel yang bermanfaat...thanks... :)
BalasHapus